Kamis, 30 Januari 2014

MENJAMIN ONESIMUS

Nats: Aku akan melunasinya. Sebaiknya jangan kukatakan bahwa engkau juga berutang padaku, yaitu dirimu sendiri. (Filemon 1:19)

Istilah "jaminan" tidak asing bagi kebanyakan orang. Dalam bidang usaha atau bisnis, jaminan terhadap barang dagangan adalah hal yang penting. Begitu juga seseorang yang akan meminjam uang kepada bank dituntut memberikan jaminan. Jaminan bisa berupa orang, barang, atau surat berharga yang diperlukan sebagai sarana pengganti.

Paulus juga menggunakan istilah "jaminan" dalam surat Filemon. Ketika Paulus dalam penjara ia menulis surat kepada Filemon, teman sekerjanya (ay. 1). Ia berharap agar Filemon mau menerima Onesimus kembali sebagai saudara dan bukan sebagai budak. Onesimus adalah budak Filemon yang melakukan kesalahan dan telah merugikan tuannya (ay. 18). Perjalanan hidup membawanya bertemu dengan Paulus dan menjadi orang beriman, bahkan mendapat tugas melayani Paulus. Bagaimanapun, Paulus menyadari, tidaklah mudah bagi Filemon untuk menerima kembali Onesimus begitu saja. Untuk meyakinkan Filemon, Paulus bersedia memberikan jaminan apabila Onesimus telah merugikannya. Dengan jaminan ini, Onesimus yang semula dianggap tidak layak menjadi dilayakkan di hadapan Filemon.

Kita juga dahulu adalah budak dosa yang telah mendukakan hati Tuhan dan layak untuk dihukum. Akan tetapi, Kristus telah telah memberikan jaminan bagi kita. Dengan kematian-Nya, Dia mengampuni dan menebus dosa kita. Dengan kebangkitan-Nya, Dia memberi kita kehidupan baru sebagai anak Allah. Kiranya jaminan kasih dan pengurbanan-Nya ini mendorong kita untuk hidup dengan penuh syukur dan sukacita. --Dewi M Suyanto /Renungan Harian

KRISTUS TELAH MENJADI JAMINAN KESELAMATAN BAGI KITA,
BUKAN "AKAN" MELAINKAN "TELAH".

Filemon 1

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 29 Januari 2014

SIKAP TERHADAP ANAK

Nats: ... mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku...? (1 Samuel 2:29)

Anak adalah harta yang tak ternilai dalam keluarga. Abraham menunggu selama 25 tahun untuk mendapatkan Ishak. Dapatlah dipahami jika ia dan istrinya sangat mengasihi anak itu. Memang amat menyenangkan dapat menyaksikan pertumbuhan anak kita yang lucu dan menggemaskan. Wajah mereka tampak imut-imut dengan tatap mata yang bening polos. Namun, alangkah sedihnya kalau anak-anak yang semula menyenangkan itu setelah besar menjadi menyebalkan.

Itulah yang terjadi pada keluarga imam Eli. Kedua anaknya, Hofni dan Pinehas, yang setelah dewasa seharusnya menjadi imam dan melayani umat Israel, ternyata menyalahgunakan kekuasaannya. Mereka menyerobot daging yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan (ay. 13-17). Mereka menajiskan Kemah Suci dengan meniduri perempuan-perempuan yang melayani di situ (ay. 22). Eli sudah berusaha menegur mereka (ay. 23-25), tetapi ia tidak bersikap tegas. Ia malah ikut menikmati daging yang mereka ambil itu (ay. 29). Jelaslah bahwa ia lebih menyayangi dan menghormati anaknya daripada Tuhan.

Wajar saja jika orangtua bangga dan sayang pada anaknya. Orangtua juga perlu menghormati sang anak. Namun, tentu juga bukan dalam taraf yang berlebihan seperti sikap Eli sehingga si anak menjadi kurang ajar. Mintalah hikmat Tuhan untuk mendorong dan mengarahkan anak kita, agar mereka dapat membedakan antara yang patut dan yang tidak patut. Bersama-sama dengan mereka, kita belajar untuk menjadi keluarga yang takut dan hormat akan Tuhan. --Debora Tioso /Renungan Harian

KASIH SAYANG TERBAIK PADA ANAK ADALAH
MENGARAHKAN MEREKA UNTUK MENGHORMATI TUHAN.

1 Samuel 2:27-36

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 28 Januari 2014

MENGENAL SANG TUAN

Nats: Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya. (1 Samuel 3:7)

Orang yang terlibat dalam pelayanan seharusnya mengenal Allah dengan baik. Kenyataannya tidak selalu begitu. Ada orang yang pandai bernyanyi, lantas diberi kesempatan untuk memimpin pujian. Ada orang yang mahir bermain musik, lalu dipercaya mengiringi pujian dalam kebaktian. Hanya karena telah terlibat dalam pelayanan, bukan berarti mereka telah dewasa rohani.

Samuel kecil melayani di rumah Tuhan di bawah pengawasan imam Eli sejak ia disapih ibunya (ay. 1). Samuel sendiri merupakan anak yang di nazarkan Hana untuk melayani Tuhan sejak ia dikandung. Ironisnya, ia belum mengenal Tuhan secara pribadi (ay. 7). Ketika Tuhan berbicara kepadanya, ia tidak mengenal-Nya. Hal itu terjadi sampai tiga kali. Setelah itu, barulah imam Eli mengajarinya apa yang seharusnya dilakukan ketika Tuhan bersabda. Sejak itu, Samuel memiliki hubungan yang sangat intim dengan Tuhan. Ia makin besar dalam penyertaan Tuhan (ay. 19) hingga akhirnya menjadi hakim terkemuka di Israel.

Tanpa pengenalan yang benar dengan Tuhan, mustahil untuk menyenangkan hati-Nya. Karena itu, kita harus berusaha semakin mengenal Allah, agar dapat melayani-Nya dengan lebih baik. Anda juga dapat berperan seperti imam Eli, memperkenalkan Tuhan pada seseorang, termasuk mereka yang telah melayani-Nya, namun belum sungguh-sungguh mengenal-Nya. Barangkali, tuntunan Anda yang sederhana itu dapat membawa mereka menuju kedewasaan rohani sehingga mereka menjadi orang yang berdampak besar bagi kemuliaan Tuhan. --Hembang Tambun /Renungan Harian

SEMAKIN KITA MENGENAL TUHAN,
SEMAKIN KITA DAPAT MELAYANI-NYA DENGAN LEBIH BAIK.

1 Samuel 3:1-10

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 27 Januari 2014

HIDUP YANG BERBEDA

Nats: Prajurit-prajurit juga bertanya kepadanya, "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka, "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Lukas 3:14)

Di tengah citra buruk seputar korupsi, kolusi, dan nepotisme di kalangan para penegak hukum, nyatanya ada sosok polisi yang tetap bersikap sebagai pengayom masyarakat. Salah satunya adalah anggota Satlantas Polres Gresik, Aiptu Jailani. Ia dijatah uang saku sebesar dua ratus ribu rupiah per bulan oleh sang istri. Jumlah yang terbatas. Toh bintara muda ini tidak tergoda menambah uang sakunya dari penyalahgunaan tugas. Predikat polisi lalu lintas yang akrab dengan "uang damai" tidak berlaku untuknya. Baginya, siapa pun yang melanggar aturan lalu lintas harus ditindak dan mendapatkan surat tilang. Termasuk istrinya sendiri! Ketegasan dan kejujuran Aiptu Jailani patut diacungi jempol.

Selain pemungut cukai, profesi prajurit pada zaman Yesus mendapat cap negatif dari masyarakat karena tindak pemerasan dan perampasan yang kerap mereka lakukan. Salah satu alasannya bisa jadi gaji yang kecil. Namun, di tengah penilaian negatif itu, beberapa prajurit mengakui kesalahannya dan ingin berubah. Apakah yang sepatutnya mereka lakukan untuk memperbaiki diri di tengah masyarakat? Yohanes Pembaptis menasihati mereka, "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu" (ay. 14).

Orang percaya dipanggil untuk menjadi sosok yang berbeda di tengah lingkungannya. Berbeda karena memiliki prinsip yang kuat untuk berlaku jujur dan berpegang teguh pada kebenaran firman Tuhan di tengah maraknya budaya korupsi. Berbeda karena menolak berkompromi dengan dosa. --Samuel Yudi Susanto /Renungan Harian

MEMEGANG TEGUH KEJUJURAN DI TENGAH LINGKUNGAN YANG TIDAK JUJUR,
PRINSIP INILAH YANG MENJADIKAN ORANG KRISTIANI ITU BERBEDA!

Lukas 3:1-22

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 26 Januari 2014

SEBUAH PENANTIAN

Nats: Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. (Lukas 1:13)

Ada banyak cara yang dilakukan orang ketika bepergian dan harus menunggu kendaraan umum. Bisa mendengarkan musik, membaca, bermain game, memantau Facebook, ngobrol dengan teman, dan sebagainya. Mereka berusaha mengisi waktu dan mengusir kejemuan. Ya, kebanyakan orang tidak suka menunggu.

Zakharia dan Elisabet mengalami penantian yang amat panjang untuk memiliki keturunan (ay. 13). Tuhan menjawab pergumulan mereka dalam waktu yang secara manusiawi sangat mustahil. Bahkan Zakaria sendiri sampai tidak memercayainya. Bagaimana tidak, Tuhan menjawab doa itu pada saat mereka berdua sudah lanjut usia (ay. 18). Suatu kejutan membahagiakan yang menghapuskan aib mereka. Bukan hanya itu. Anak yang lahir itu, yang diberi nama Yohanes, turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Anak ini ditetapkan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias (ay. 16-17).

Bukankah kita juga kerap berpikir bahwa Tuhan terlambat dalam menjawab doa kita? Atau, malah mengabaikannya sama sekali. Sesungguhnya Dia tidak pernah terlalu lambat atau terlalu cepat. Tuhan menjawab doa dan penantian kita bukan hanya untuk memuaskan keinginan kita. Dia ingin menyelaraskan keinginan kita dengan kehendak-Nya. Bisa jadi, seperti dialami Zakharia dan Elisabet, jawaban-Nya justru mengejutkan karena melampaui pengharapan kita. Jadi, jangan jemu menantikan Dia. Gunakan waktu menunggu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan produktif. Biarlah Dia menjawab doa kita menurut waktu-Nya. --Fatrik Marundau /Renungan Harian

JAWABAN DOA DARI TUHAN BUKAN HANYA TEPAT PADA WAKTU-NYA,
TETAPI JUGA MENYELARASKAN KEINGINAN KITA DENGAN KEHENDAK-NYA.

Lukas 1:5-25

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 25 Januari 2014

SEKOLAH SUNGAI KERIT

Nats: Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. (1 Raja-raja 17:5)

Sebagai orang yang perfeksionis, saya cenderung terjebak pada rencana-rencana yang telah saya buat. Saya kecewa dan jengkel jika ada masalah yang mengalihkan saya dari kebiasaan dan rencana saya. Lebih dari itu, peralihan tak terduga yang terjadi dalam hidup ini terkadang mengguncangkan dan menyakitkan. Namun, Allah yang mahatahu dapat saja mengalihkan perhatian kita, supaya Dia dapat menggunakan hidup kita secara lebih optimal.

Ingatlah kisah Elia. Elia datang bernubuat dengan penuh kuasa di depan raja Ahab (ay. 1). Namun, Allah lalu memerintahkannya pergi ke Sungai Kerit. Tanpa persediaan makanan dan bekal apa pun, berangkatlah Elia menuju tempat terpencil itu. Ia bisa saja berkata, "Tuhan, ini bukan saat yang tepat untuk menyendiri. Ahab pasti menganggap aku pengecut karena sesudah bicara di depannya malah menyembunyikan diri." Tetapi, Elia percaya dan patuh pada firman Tuhan (ay. 5). Di Sungai Kerit Elia diasingkan untuk berdua hanya dengan Allah. Di sana ia terlindung dari kejaran tentara Ahab. Sungai Kerit menjadi "sekolah" tempat Allah melatih otot rohani Elia, mempersiapkannya menjadi abdi Allah yang cakap (ay. 24).

Allah kadang mengalihkan perhatian dan mengasingkan kita ke "sekolah Sungai Kerit", supaya kita dapat menikmati persekutuan yang intim dengan-Nya. Bisa jadi ada hal-hal yang perlu diperbaiki dalam diri kita sebelum kita melangkah lebih jauh. Melalui masa pembekalan ini, Allah melatih kita untuk terus bergantung kepada-Nya. --Dewi Kurnianingsih /Renungan Harian

BAGI ORANG KRISTEN, PENGALIHAN DAPAT BERARTI TERSEDIANYA BEKAL
YANG LEBIH BESAR DARI ALLAH.

1 Raja-raja 17:1-6

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 24 Januari 2014

MERASA LEBIH

Nats: Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Lukas 18:14)

Ketika media massa banyak menyoroti peristiwa kecelakaan lalu-lintas yang memakan korban jiwa, saya dan teman-teman sempat membicarakannya. Salah satu pernyataan yang sering terlontar, "Sekarang ini susah. Kita sudah berhati-hati, masalahnya orang lain ceroboh, kita jadi korban." Orang itu bermaksud mengatakan bahwa dirinya sudah mengemudi dengan lebih hati-hati. Nyatanya, hampir semua orang pernah mengemudi dengan kurang hati-hati sehingga menabrak atau menyenggol sesuatu.

Ada kecenderungan merasa diri kita lebih baik. dari orang lain. Paling parah jika sikap ini berkaitan dengan dosa. Orang Farisi dalam perumpamaan Yesus merasa diri benar karena memiliki kedudukan terhormat dalam masyarakat (ay. 11). Ia juga berupaya melakukan aktivitas keagamaan dengan ketat (ay. 12). Ia mengira dirinya diterima Allah. Padahal, ia sama saja dengan pemungut cukai itu: sama-sama berdosa dan tidak layak di hadapan Allah yang kudus. Dan, pemungut cukai itu dibenarkan karena tidak membenarkan diri, melainkan memiliki hati yang hancur.

Merasa diri lebih baik dari sesama itu sikap yang pongah. Sikap ini merintangi kita menghampiri hadirat Tuhan. Kita akan sulit mengucap syukur atas anugerah pengampunan dan pengurbanan Tuhan Yesus, seolah kekudusan dapat kita peroleh melalui aktivitas ibadah dan perbuatan baik. Sebaliknya, Tuhan berkenan akan ibadah kita bila kita menghampiri-Nya dengan kerendahan hati, dengan menyadari bahwa hanya oleh anugerah-Nya kita dapat dikuduskan. --Heman Elia /Renungan Harian

HAMPIRILAH HADIRAT-NYA DENGAN KERENDAHAN HATI,
DAN BIARLAH ANUGERAH-NYA MENGUDUSKAN KITA.

Lukas 18:9-14

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 23 Januari 2014

BONUS UMUR PANJANG

Nats: Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan Raja Asyur. (2 Raja-raja 20:6)

Chairil Anwar, dalam sebuah puisinya, mengungkapkan: "Aku mau hidup seribu tahun lagi". Harapan senada sering kita temukan dalam acara ulang tahun: "Semoga diberi panjang umur". Memiliki umur panjang, sehat, dan bahagia menjadi dambaan banyak orang. Persoalannya, tidak ada orang yang dapat menambah umur atau membelinya sekalipun ia adalah orang berduit. Kematian tetap saja membayangi dan membatasi masa hidup manusia.

Kenyataan akan singkatnya hidup dan misteri kematian pernah dihadapi oleh Raja Hizkia. Ia menderita suatu penyakit dan nabi Yesaya menyatakan bahwa ia tidak akan sembuh dan segera mati (ay. 1). Vonis kematian ini membuat Hizkia sangat sedih. Namun, ia menyadari kepada siapa ia harus membawa kepedihan hatinya. Ia mencurahkan isi hatinya dan meminta belas kasihan kepada Allah (ay. 2-3). Dalam kemurahan-Nya, Allah mendengarkan doa Hizkia tersebut. Sang raja tidak akan segera mati, bahkan Tuhan berkenan memberinya bonus tambahan umur sepanjang lima belas tahun.

Bisa jadi kita pernah diperhadapkan pada situasi yang tidak kita inginkan. Mungkin kita merasa sudah lama berdoa, tetapi sepertinya tak juga ada jawaban. Kita tidak mendapatkan kepastian yang gamblang seperti yang diterima Raja Hizkia. Bagaimanapun, yakinlah bahwa kehendak Tuhan jauh lebih indah dari apa yang kita pikirkan. Sepanjang masa hidup yang masih boleh kita jalani ini, baiklah kita menggunakannya untuk memuliakan Dia. --Dewi M Suyanto /Renungan Harian

YANG TERPENTING BUKANLAH BERAPA PANJANG UMUR KEHIDUPAN KITA,
MELAINKAN BAGAIMANA KITA MENGISI DAN MENGGUNAKANNYA.

2 Raja-raja 20:1-11

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 22 Januari 2014

FARISI DAN SAYA

Nats: Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Matius 23:3)

"Munafik" nyaris identik dengan "Farisi". Orang Farisi menekankan ketaatan pada setiap peraturan Kitab Suci. Mereka setia membayar perpuluhan, tidak merampok, tidak berzina, rajin berpuasa. Masalahnya, hal itu lalu membuat mereka merasa lebih suci dari orang lain. Mereka menjalankan segala ritual rohani bukan karena mengasihi Allah, melainkan untuk membenarkan diri dan mendapatkan pujian manusia (ay. 5-7).

Apakah orang Farisi hanya ada pada zaman Tuhan Yesus? Jujur, kadang-kadang saya melihat diri saya termasuk dalam kelompok ini. Saya lebih takut mendapatkan penilaian buruk dari manusia dibandingkan dari Tuhan. Saya memfokuskan diri pada penampilan luar dan melatih diri saya sedemikian rupa, supaya orang lain memandang saya sebagai orang yang saleh. Saya membaca buku-buku doktrin, bukan supaya saya rindu mengenal Allah lebih dalam lagi, melainkan agar saya dapat terlihat lebih pandai. Saya melayani sebagai pemimpin pujian selama puluhan tahun. Namun, terkadang saya memakai kesempatan itu untuk mencari pujian yang sia-sia.

Perikop hari ini menolong saya untuk berintrospeksi. Tidak peduli berapa lama saya sudah menjadi Kristen. Tidak peduli betapa aktif saya melayani. Tidak peduli bagaimana orang lain memandang betapa baiknya saya. Di luar itu, Tuhan mengenal saya sampai ke relung hati yang paling dalam. Di hadapan-Nya, saya tidak dapat menutupi wajah dengan topeng. Di hadapan-Nya pula saya dapat bertobat dan memberi diri untuk dituntun kembali ke jalan-Nya. --Dewi Kurnianingsih /Renungan Harian

BAGI MEREKA YANG MENCARI PUJIAN DARI MANUSIA,
TIDAK ADA UPAH DARI ALLAH. --C H SPURGEON

Matius 23:1-36

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 21 Januari 2014

HATI-HATI ISINYA!

Nats: Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. (Kolose 2:8)

Trinity. Vietnam Rose. Belladonna. Lucifer. Nama-nama yang cantik. Tetapi, bagaimana jika nama itu dilekatkan pada benda atau sosok pembawa keburukan atau kejahatan? Trinity dipakai sebagai nama bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, pada 1945. Vietnam Rose adalah nama penyakit kelamin yang diidap sebagian tentara AS saat perang Vietnam pada era 1970-an. Belladonna atau "perempuan cantik" menjadi nama tanaman beracun mematikan. Dan Lucifer, si Bintang Fajar-ah, ia salah satu penghulu malaikat yang berubah menjadi Iblis!

Banyak hal yang buruk atau jahat, namun dikemas begitu indah sehingga kita tidak cermat meneliti isinya. Kita terkelabui. Rasul Paulus mengingatkan agar kita jangan tertawan oleh "filsafat dunia yang kosong dan palsu" karena hal itu "tidak menurut Kristus" (ay. 8). Banyak filsafat yang tampak luhur, menawarkan keselamatan hidup, namun tidak mengandalkan Kristus. Sebagai orang percaya, kita ditetapkan untuk "hidup dan berakar di dalam Dia" serta "dibangun di atas Dia", agar iman kita "bertambah teguh pada-Nya" (ay. 6-7). Jika tidak, kita akan gampang terpikat oleh "banyak nabi palsu" yang berusaha menjauhkan kita dari Kristus (lihat 1 Yohanes 4:1).

Bagaimana kita bisa menangkal tipu muslihat Iblis ini? Tiada jalan lain kecuali bergaul erat dengan-Nya. Dengan demikian, kita tidak gampang silau oleh nama yang indah atau kemasan yang cantik, tetapi mampu "menguji setiap roh" (1 Yohanes 4:1), apakah hal itu berasal dari Allah atau bukan. --Hiendarto Sukotjo /Renungan Harian

JANGAN LANGSUNG TERPESONA OLEH KEMASANNYA,
TELITI LEBIH DULU DENGAN CERMAT ISINYA!

Kolose 2:6-15

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

GADIS ANJING

Nats: Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku. (Mazmur 27:10)

Oxana Malaya, gadis dari desa di Ukraina, bertingkah persis seperti anjing. Ia merangkak, menggonggong, bahkan memakan daging mentah! Setelah diusut, tenyata Oxana memiliki masa lalu yang memilukan. Ayahnya menikah lagi ketika ia masih begitu kecil; ibunya yang frustasi menjadi pecandu narkoba dan akhirnya juga meninggalkannya. Di sekolah, ia menjadi bahan olok-olokan. Akhirnya ia hanya bergaul dengan sekumpulan anjing dan merasa mendapatkan penerimaan. Oxana bertumbuh dengan kondisi kejiwaan yang merasa nyaman menjadi seperti seekor anjing. Oxana merasa lebih diterima oleh sekumpulan anjing dan memutuskan untuk menjadi bagian dari mereka.

Penerimaan adalah kebutuhan setiap orang, dan kabar sukacitanya Allah sangat memahami hal itu. Sebelum Yesus memulai pelayanan pun, Allah sudah menyatakan bahwa Dia mengasihi Yesus dan berkenan akan kehidupan-Nya. Bukankah itu juga yang kita butuhkan? Suatu penerimaan tanpa syarat, bukan penerimaan berdasarkan apa yang dapat kita lakukan. Orang yang paling dekat dengan kita pun bisa jadi menolak kita, tetapi, seperti pengakuan pemazmur, Allah menerima kita tanpa syarat.

Kita mungkin sedang merasa gagal atau tidak layak. Bagaimanapun keadaan kita, penerimaan Allah terhadap kita tidak pernah berubah. Dia mengerti kegagalan kita jauh sebelum kita mengalaminya; Dia tidak terkejut oleh semuanya itu. Identitas dan kelayakan pribadi kita bukan ditentukan oleh kegagalan atau keberhasilan kita, melainkan oleh kasih karunia-Nya. Bersyukurlah! --Hendro Saputro /Renungan Harian

ALLAH MENERIMA KITA BUKAN KARENA KITA BAIK,
MELAINKAN KARENA DIA ALLAH YANG BAIK.

Mazmur 27

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 19 Januari 2014

MEMPERGUNJINGKAN PEMIMPIN

Nats: Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa? (Bilangan 12:9)

Suatu hari seusai kebaktian Minggu, saya pulang bersama beberapa teman. Awalnya kami berbincang santai tentang pekerjaan, tapi kemudian seorang teman tiba-tiba mengeluh tentang ibadah yang baru saja kami hadiri. "Khotbahnya terlalu lama, pelayan mimbar kemampuannya pas-pasan, " katanya. Tak saya sangka, teman-teman lain ikut menimpali dengan bersemangat. Saat saya diturunkan di rumah, semua orang di dalam mobil sedang asyik menggunjingkan kekurangan dan kelemahan para pemimpin dan pelayan di gereja.

Lidah adalah sesuatu yang buas, tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan (Yak. 3:8). Hal ini sungguh benar! Betapa sering kita, sadar atau tidak, menggunakan lidah untuk hal-hal yang tidak memuliakan Tuhan. Perbincangan yang santai dengan mudah bergeser menjadi pergunjingan, membicarakan kekurangan orang lain, termasuk para pemimpin: atasan di tempat kerja, pemimpin dan pelayan di gereja, orangtua, dsb.

Para pemimpin adalah manusia yang juga memiliki kekurangan. Tetapi, kebiasaan mempergunjingkan mereka bukanlah sikap yang pantas bagi anak Tuhan. Miryam menerima ganjaran berat karena mengeluh tentang Musa di belakang punggungnya. Jika kita memiliki keberatan terhadap pemimpin, kita seharusnya mendoakan mereka. Jika perlu, kita dapat menemui mereka empat mata, menyampaikan masukan kita dengan penuh kasih, bukan malah menyebarkan gosip. Bukankah Amsal berkata, "Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi" (Ams. 27:5)? --Viona Wijaya /Renungan Harian

ANDA MENGETAHUI KELEMAHAN SEORANG PEMIMPIN?
JANGAN PERGUNJINGKAN, LEBIH BAIK DOAKAN MEREKA.

Bilangan 12:1-10

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 18 Januari 2014

TAK LEBIH BERDOSA

Nats: Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 'Tidak!' kata-Ku kepadamu. (Lukas 13:2-3)

Ketika suatu peristiwa buruk --misalnya tsunami, gempa bumi, banjir, kebakaran, kecelakaan, tindakan kriminal atau kesialan tertentu-- menimpa seseorang atau suatu daerah, sebagian orang memandangnya sebagai hukuman Allah. Mereka beranggapan bahwa orang-orang tersebut memang pantas mendapatkannya.

Sebagian orang Israel juga memiliki anggapan demikian. Mereka mengira orang Galilea yang dibunuh dan darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah kurban persembahannya lebih berdosa daripada orang Galilea lainnya. Mereka juga mengira orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam lebih besar dosanya dari orang Yerusalem lainnya. Dosa merekalah yang mengakibatkan mereka mengalami nasib buruk itu, simpul mereka.

Namun Yesus meluruskan pemahaman mereka. Cara hidup seseorang tidak menentukan cara matinya. Banyak orang benar yang mengalami kematian mengenaskan. Yesus sendiri bahkan menjalani kematian yang mengerikan dan hina. Sebaliknya, banyak orang jahat yang mati dengan cara yang dinilai terhormat oleh manusia. Karena itulah, Yesus mengajak pendengar-Nya untuk tidak berfokus pada apa yang dialami oleh seseorang di dunia ini, termasuk cara kematian mereka, melainkan pada sesuatu yang lebih penting. Dia menekankan pertobatan, menyambut anugerah Allah yang menyelamatkan, sehingga tidak mengalami kebinasaan kekal. Karena itu, janganlah kita tergoda untuk menghakimi orang lain dan membenarkan diri sendiri. Sebaiknya, pastikanlah pertobatan kita dengan menerima pengurbanan Kristus. --Hembang Tambun /Renungan Harian

MENYAMBUT ANUGERAH ALLAH DALAM KRISTUS
MENJADI JAMINAN KESELAMATAN KITA YANG PASTI.

Lukas 13:1-5

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 17 Januari 2014

BUTA ROHANI

Nats: Adapun mata Israel telah kabur karena tuanya, jadi ia tidak dapat lagi melihat. Kemudian Yusuf mendekatkan mereka kepada ayahnya: dan mereka dicium serta didekap oleh ayahnya. (Kejadian 48:10)

Sebelum menutup mata, Yakub yang telah buta sempat bertemu dan berkumpul lagi dengan Yusuf, anaknya yang hilang. Ia memberkati dua cucu dari anaknya itu. Yusuf menempatkan Manasye, anak sulungnya, di sebelah kanan Yakub, sedangkan Efraim, anak bungsunya, di sebelah kiri Yakub. Maksudnya, biarlah si sulung mendapatkan berkat yang lebih besar daripada adiknya. Tetapi, Yakub menyilangkan kedua tangannya sehingga Efraimlah yang memperoleh berkat tangan kanan Yakub. Yusuf sudah memperingatkan ayahnya, tetapi Yakub melakukannya berdasarkan kehendak Tuhan.

Kondisi Yakub sama dengan Ishak, ayahnya, ketika memberkati dirinya dan Esau (lihat Kej. 27:1). Keduanya sama-sama sudah buta rabun. Bedanya, Ishak tidak peka dalam mengenali anaknya, sedangkan Yakub dapat membeda-bedakan cucunya (ay. 17). Kebutaan mata tidak memburamkan nurani Yakub. Ia tahu Efraim yang akan mendapatkan berkat dari tangan kanannya. Ia pun memberkati menurut rencana dan kehendak Tuhan.

Orang percaya diberi mata rohani, kepekaan terhadap rencana dan kehendak Tuhan. Dalam persekutuan dengan-Nya, mata rohani kita akan terbuka, tahu membedakan mana yang berguna dan yang tidak berguna. Sayangnya, masih banyak orang percaya yang rabun secara rohani, tidak belajar untuk taat kepada firman Tuhan, sehingga tidak bisa melihat rencana Tuhan yang begitu indah bagi hidupnya. Mintalah Roh Kudus untuk melatih kita mengikuti kehendak Tuhan, menyelaraskan langkah hidup kita dengan pimpinan-Nya. --Jap Sutedja /Renungan Harian

MATA ROHANI YANG TERANG MENJADIKAN KITA MANTAP
DALAM MENGIKUTI PIMPINAN TUHAN.

Kejadian 48:1-22

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 16 Januari 2014

JEJAK

Nats: Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara seiman di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di sana pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi. (Kisah Para Rasul 17:10)

Pada tahun 1961, George Verwer dan Roger Malstead tertangkap ketika sedang melakukan misi penginjilan di Rusia. Setelah ditahan selama dua hari akhirnya mereka dibebaskan. Mereka sering mengalami penangkapan seperti itu. Meskipun sering ditangkap, diinterogasi, dan diusir pemerintah setempat, mereka terus giat mengabar kan Injil dan membagikan Alkitab. Segala hambatan mereka hadapi demi sebuah misi besar, yaitu meninggalkan jejak Injil di berbagai negara. Jejak pelayanan mereka mencapai Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Setelah terjadi keributan di Tesalonika (ay. 5), Paulus dan Silas berangkat ke Berea guna menghindari suasana yang semakin memanas. Mereka melanjutkan pemberitaan Injil (ay. 10), dan menghasilkan banyak pertobatan di antara penduduk Berea yang menjadi percaya (ay. 12). Meskipun setiap kali Injil diberitakan selalu ada hambatan, bahkan ancaman maut (ay. 13), Paulus tetap bergerak ke depan dan terus mengabarkan Injil. Paulus digerakkan oleh misi untuk mengabarkan dan meninggalkan jejak Injil Kristus di mana pun ia singgah. Misi ini tidak sia-sia. Terbukti, berita Injil akhirnya dapat didengar bangsa-bangsa di seluruh bumi dan menghasilkan pertobatan orang banyak yang percaya pada Kristus.

Apakah misi hidup kita? Jejak apakah yang kita tinggalkan di tempat kita berada? Sudahkah kita meninggalkan jejak Injil Kristus di sekitar kita? Kapan saja, di mana saja, dan dalam peran apa saja, kiranya Injil Kristus menggerakkan langkah kaki kita. --Rellin Ayudya /Renungan Harian

KE MANA PUN KITA MELANGKAH, KIRANYA BUKAN JEJAK KITA,
MELAINKAN JEJAK KRISTUSLAH YANG TERTINGGAL.

Kisah Para Rasul 17:10-15

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 15 Januari 2014

ARTI SEBUAH KELUARGA

Nats: Sebab itu terimalah satu sama lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)

Ketika masih kecil, saya pernah bertengkar dengan adik. Hingga beberapa hari kami tidak bertegur sapa. Saya lupa persisnya penyebab pertengkaran itu. Namun, saya tidak dapat lupa nasihat Ibu, "Apa pun kesalahannya, ia adalah adikmu. Suka atau tidak suka, ia tetap adikmu. Tidak ada yang dapat mengubah itu. Mau sampai kapan kamu bertengkar?" Ibu selalu mengajarkan kepada kami untuk dapat menerima saudara kami. Kami harus saling mengam-puni dan mengasihi karena kami adalah saudara dan tidak ada yang dapat mengubah hal itu.

Kita juga satu keluarga di dalam Kristus. Kita tidak pernah dapat memilih siapa yang menjadi keluarga kita. Keluarga adalah anugerah yang Tuhan berikan. Paulus pun menasihati jemaat di Roma agar dapat menerima satu sama lain sebagaimana Kristus telah menerima kita dengan semua kelemahan kita. Kita harus meneladani Kristus. Kita yang kuat harus menanggung mereka yang lemah dan tidak mencari kesenangan diri sendiri.

Dalam berhubungan dengan saudara seiman, kita juga sering menemui masalah karena perbedaan kepribadian, kesalahpahaman, perbedaan pendapat, dll. Ketika hal itu terjadi, ingatlah bahwa bagaimanapun juga mereka adalah saudara kita dalam keluarga Allah. Janganlah menjauhi atau mengucilkan mereka. Sebaliknya, kita harus menerima, mengampuni, dan mengasihi mereka sama seperti Kristus telah menebus kita, orang berdosa. Ketika kita saling mengasihi, dunia akan melihat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Nama-Nya dipermuliakan. --Vonny Thay /Renungan Harian

KRISTUS MENGINGINKAN AGAR KITA SEBAGAI SATU KELUARGA
SALING MENERIMA, MENGAMPUNI, DAN MENGASIHI DI DALAM KASIH-NYA.

Roma 15:1-13

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 14 Januari 2014

AHOK DAN ALPHARD

Nats: Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israel pun menangislah pula serta berkata: "Siapakah yang akan memberi kita makan daging?" (Bilangan 11:4)

Puteri Indonesia 2013, Whulandary, bertanya kepada Wagub DKI Jakarta, yang biasa disapa Ahok, "Setelah Bapak menjadi Wakil Gubernur, anak Bapak mendapat fasilitas apa?" Ahok pun menjawab, "Baru dua minggu lalu anak saya menangis minta pindah sekolah karena dibilang anak miskin. Anak saya ke sekolah naik bis, temannya diantar Alphard." Lalu Ahok menambahkan, ia menasihati anaknya bahwa orang kaya itu bukan orang yang punya Alphard, tetapi orang yang merasa cukup dengan apa pun miliknya dan bersyukur.

Dalam perjalanan selama empat puluh tahun di padang gurun menuju Kanaan, bangsa Israel pun sering merasa tidak puas. Bagai anak kecil yang gemar merengek, seperti itulah sikap mereka. Meremehkan pemberian Tuhan, membandingkannya dengan kenikmatan yang dulu mereka alami. Mereka dilepaskan dari perbudakan bangsa Mesir, namun pikiran mereka hanya tertuju pada kebutuhan perut (ay. 6). Jiwa mereka didera oleh ketidakpuasan dan kerakusan sehingga tak mampu lagi mensyukuri rancangan Tuhan dan kebaikan-Nya.

Mungkin kita sering sibuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Mungkin pikiran kita penuh dengan bermacam keinginan akan hal-hal yang belum kita miliki sehingga kita sulit mensyukuri hal-hal yang sudah kita miliki. Alangkah baiknya jika kita meluangkan waktu untuk menghitung berkat yang kita punyai, yang semata-mata merupakan anugerah Tuhan. Kiranya kesadaran ini mendorong kita untuk tidak lagi bersungut-sungut, melainkan mengucap syukur. --Sisilia Lilis /Renungan Harian

MENSYUKURI BERKAT YANG TUHAN KARUNIAKAN DALAM HIDUP INI
MEMBANGKITKAN KETENANGAN DAN KEPUASAN BATIN YANG MELEGAKAN.

Bilangan 11:4-23

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 13 Januari 2014

GENERASI TANPA TUHAN

Nats: ... bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel. (Hakim-Hakim 2:10)

Eropa sebelum abad ke-19 boleh dikatakan pusat kekristenan dunia. Dari sinilah kekristenan tersebar ke seluruh dunia. Akan tetapi, beberapa survei menunjukkan bahwa pada saat ini kekristenan di Eropa mengalami penurunan drastis. Banyak orang sudah enggan ke gereja lagi. Gereja menjadi kosong sehingga tidak aneh jika kemudian gereja berubah fungsi. Ada yang menjadi ruang pameran, tempat hiburan, atau museum.

Kondisi yang sama pernah terjadi dalam kehidupan bangsa Israel. Pada masa kepemimpinan Yosua, mereka menyembah kepada Allah. Akan tetapi, kondisinya jauh berbeda setelah Yosua meninggal. Generasi berikutnya tidak lagi mengenal Tuhan dan karya yang telah dilakukan-Nya bagi bangsa Israel. Bahkan mereka menyembah kepada ilah-ilah lain (ay. 12-13). Ironis, karena pada mulanya Tuhan memilih bangsa Israel untuk suatu rencana agung. Tuhan ingin mereka bisa membawa bangsa lain datang kepada-Nya. Tetapi, generasi penerus ini tidak memahami maksud Tuhan, dan malah mengikuti penyembahan berhala oleh bangsa lain. Tidak heran hal ini membangkit kan murka Tuhan (ay. 14-15). Ada yang salah dalam kehidupan rohani bangsa Israel sehingga generasi penerusnya meninggalkan Tuhan.

Kita juga ditetapkan untuk mengajarkan iman yang benar kepada anak kita. Setiap orangtua Kristen bertanggung jawab untuk memperkenalkan kasih Tuhan kepada anaknya, dengan harapan nantinya mereka menjadi orang beriman. Jika kita lalai, besar kemungkinan anak cucu kita kelak tidak lagi percaya kepada Tuhan. --Yakobus Budi Prasojo /Renungan Harian

KETIKA KITA MENGAJARKAN IMAN DENGAN SETIA,
KITA MEMPERSIAPKAN GENERASI YANG MENGASIHI TUHAN.

Hakim-Hakim 2:6-16

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 12 Januari 2014

MENOLAK PENGHORMATAN

Nats: Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. (Kisah Para Rasul 14:13)

Ketika pelayan Tuhan --entah yang ditahbiskan entah jemaat biasa-- melakukan pelayanan yang berkesan bagi seseorang, tak jarang ia mendapatkan pujian yang dapat melambungkan hati. Pujian itu muncul karena ia menyampaikan khotbah yang menarik, doanya terkabul, atau ia melakukan mukjizat. Banyak orang yang kemudian memuja pelayan Tuhan ini atas apa yang ia lakukan demi nama Tuhan.

Di kota Listra, Rasul Paulus dan Barnabas menyembuhkan orang yang lumpuh sejak lahir karena ia beriman. Melihat itu, penduduk setempat menyimpulkan dewa-dewa telah melawat mereka. Barnabas dikira dewa Zeus, dan Paulus dikira Hermes, sang juru bicara. Imam dewa Zeus pun membawa banyak persembahan untuk menghormati mereka. Mereka melakukannya dengan tulus, namun tanpa mengetahui kebenaran.

Paulus dan Barnabas menolak penghormatan tersebut dan meluruskan pemahaman mereka. Keduanya menggunakan kesempatan itu untuk memberitakan Injil kepada orang banyak. Tetapi orang Yahudi dari kota lain datang menghasut sehingga kedua rasul itu dilempari batu hingga disangka mati. Mereka memilih dianiaya daripada mendapatkan penghormatan yang tidak selayaknya.

Ketika melayani, ada godaan untuk mendapatkan penghormatan seolah pelayanan itu bersumber dari diri kita sendiri. Waspadalah supaya kita jangan mencuri kemuliaan Allah. Jangan sampai kita yang menjadi pusat perhatian, namun biarlah orang banyak semakin mengenal dan menghormati Allah melalui pelayanan kita. --Hembang Tambun /Renungan Harian

MENERIMA KEHORMATAN YANG SEBENARNYA TIDAK LAYAK KITA TERIMA
SAMA SAJA DENGAN MENIPU DIRI SENDIRI.

Kisah Para Rasul 14:8-20

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 11 Januari 2014

SEANDAINYA TIDAK

Nats: Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu. (Daniel 3:18)

Kita tentu setuju bahwa iman itu penting untuk berdoa secara efektif (Markus 11:4). Namun, tidak sedikit orang yang berdoa dengan tidak yakin. Atau, sebaliknya, ada pula yang berdoa dengan begitu ngotot, seakan-akan mewajibkan Allah menjawab doanya. Untuk tidak tergelincir ke dalam salah satu dari dua ekstrem itu, kita dapat belajar dari doa penuh iman yang dipanjatkan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.

Tidak perlu dipertanyakan lagi, ketiga pemuda ini pasti ingin diselamatkan dari perapian yang menyala-nyala itu. Mereka penuh iman, sangat yakin bahwa Allah sanggup melepaskan mereka (ay. 17). Menariknya, mereka membubuhkan catatan, "Tetapi seandainya tidak..." (ay. 18). Ini membuktikan kesejatian iman mereka. Ini bukan ungkapan pesimistis, melainkan pengakuan yang realistis tentang tak terbatasnya hikmat Sang Pencipta, bahwa cara penyelamatan-Nya tidak selalu dapat dipahami oleh manusia. Ini juga membuktikan bahwa ada yang lebih penting dari nyawa mereka, yakni Allah dan hubungan mereka dengan-Nya. Mereka tidak menuntut Allah mengabulkan doa, tetapi dengan penuh iman menempatkan diri di bawah kedaulatan dan kehendak-Nya.

Pada saat doa kita tidak dikabulkan, respons kita menunjukkan kualitas iman yang kita miliki. Dalam doa di taman Getsemani, Yesus meneladankan iman yang penuh penyerahan diri, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Iman yang tidak hanya menantikan jawaban doa, tetapi terutama merindukan agar kehendak Tuhan terjadi. --Iwan Catur Wibowo /Renungan Harian

IMAN ITU BERSERAH, BUKAN MENUNTUT ALLAH.

Daniel 3:13-18

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 10 Januari 2014

JANGAN TERLALU KHAWATIR

Nats: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. (Lukas 12:22)

"Hari yang diisi dengan rasa khawatir akan jauh lebih berat daripada hari yang disibukkan dengan berbagai pekerjaan." Kalimat yang menginspirasi itu muncul dalam status Blackberry teman saya. Saya segera merespons dan berterima kasih kepadanya. Tuhan memakainya untuk mengingatkan saya agar tidak terlalu khawatir dalam menjalani hidup ini. Lebih baik menikmati hari yang Tuhan berikan --dengan segala macam kejadian yang berlangsung di dalamnya-- daripada khawatir sepanjang hari.

Ada tiga alasan mengapa kita tidak perlu khawatir. Pertama, kekhawatiran adalah pelanggaran terhadap firman Tuhan. Bukankah Yesus tidak menghendaki kita untuk khawatir? Kedua, kekhawatiran menunjukkan sikap yang kurang percaya. Yesus menyamakan orang yang selalu mempersoalkan perkara kebutuhan sehari-hari dengan orang yang kurang percaya (Luk. 12:28-29). Bagaimana perasaan Bapa kita jika anak-Nya tidak percaya akan pemeliharaan-Nya?

Ketiga, kekhawatiran hanya menambah berat beban pikiran, dan buntutnya dapat mendatangkan penyakit dan depresi. Persoalan sehari cukup untuk sehari, hari esok ada kesusahannya sendiri (Mat. 6:34). Lagi pula kita memang tidak dapat mengontrol apa yang terjadi pada masa depan.

Jadi, bagaimana sekarang? Masihkah kita membiarkan ke khawatiran menguasai hidup kita? Berhentilah khawatir, belajarlah menikmati hari yang Tuhan berikan, dan percayalah pada pemeliharaan-Nya. Bapa mengenal kita dan mengerti yang terbaik bagi kesejahteraan kita. --Widodo Surya Putra /Renungan Harian

JIKA KEKHAWATIRAN LEBIH MELELAHKAN DARIPADA BEKERJA,
MENGAPA KITA MASIH KHAWATIR?

Lukas 12:22-31

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 09 Januari 2014

MELANGKAH DI ATAS GELOMBANG

Nats: Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:31)

Seorang anak berusia satu tahun diajar berjalan oleh ibunya. Tiap akan melangkah, ia menoleh ke kanan ke kiri, memandang lantai di depannya, sekilas ke arah ibunya, lalu duduk karena takut melangkah. Begitu berulang kali. Ibunya berseru, "Nak, lihat Ibu saja, Nak! Sini, lihat Ibu! Ayo, sekarang jalan. Jalan!" Ibu itu berusaha membangkitkan keberanian si anak. Akhirnya si anak, sambil terus memandang wajah ibunya, melangkah pelan-pelan.

Murid-murid Yesus melawan gelombang yang menerjang perahu mereka pada pagi buta (ay. 24-25). Bisa jadi mereka mulai putus asa saat badai kian mengganas. Sudah begitu, Yesus mendatangi mereka dengan cara yang tidak terduga. Tak heran mereka ketakutan (ay. 26). Untuk mengusir keraguan, Petrus meminta diizinkan berjalan di atas air mendekati Yesus (ay. 28). Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia dapat melangkah di atas gelombang danau yang sedang mengamuk. Namun, saat perhatiannya beralih pada situasi sekitarnya, rasa takut menyergapnya, imannya goyah, dan ia mulai tenggelam (ay. 30).

Kita mungkin menghadapi situasi serupa, harus berjalan di tengah situasi yang pelik. Apakah Anda sedang diterpa rasa takut, seperti hendak tenggelam ditelan arus masalah? Selama mata Anda tertuju pada Yesus, Anda dapat melangkah di atas gelombang hidup ini. Fokuskan pandangan pada Yesus, bukan pada besarnya masalah. Ulurkan tangan untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Yesus berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (ay. 27). --Rony Sofian /Renungan Harian

BERSAMA YESUS KITA DAPAT MELANGKAH
DI ATAS GELOMBANG BADAI KEHIDUPAN.

Matius 14:22-33

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 08 Januari 2014

BUKAN MANTRA

Nats: Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh. (Mazmur 119:130)

Kaisar Menelik II adalah pemimpin besar dalam sejarah Afrika dan dikenal sebagai bapak modernisasi Ethiopia. Namun, konon ia memiliki kebiasaan yang ganjil: setiap kali sakit ia memakan beberapa lembar halaman Alkitab! Menelik sangat percaya lembaran Kitab Suci dapat menyembuhkan penyakitnya. Hingga suatu hari pada Desember 1913, ia sakit parah. Kali ini ia merobek seluruh pasal kitab Raja-Raja dan memakannya. Hasilnya? Ia meninggal!

Kita mungkin tidak bertindak seekstrem Menelik, namun kita sering memiliki kecenderungan yang sama. Banyak orang Kristen memperlakukan firman Tuhan seperti jimat yang dapat mengubah keadaan secara instan dan, parahnya, menurut cara yang mereka inginkan! Saya pernah mendapati orang yang menyimpan salib kecil dengan gulungan kertas berisi ayat Alkitab di dalam dompetnya. "Untuk membawa keberuntungan, " katanya. Bukannya mempelajari firman Tuhan agar hidup mereka diubahkan, mereka mencuplik firman itu sesuka hati menjadi "mantra" atas hal-hal yang mereka kehendaki.

Firman Tuhan berfungsi menerangi dan memberi pengertian bagi hidup kita. Melalui firman, motivasi hati kita diluruskan, karakter kita dibentuk, dan kita dapat mengenal Tuhan semakin dalam. Hidup kita perlu diselaraskan atas firmanNya, bukan sebaliknya, kita mencuplik firman lalu memaksakannya agar sesuai dengan keinginan kita. Ya, firman Tuhan bukan "mantra" yang dapat kita gunakan semau-mau kita. Apakah kita sudah memperlakukan firmanNya dengan sepatutnya? --Hendro Saputro /Renungan Harian

FIRMAN TUHAN BERKUASA MENGUBAH HIDUP KITA MENURUT KEHENDAK-NYA,
BUKAN MENURUT KEHENDAK KITA.

Mazmur 119:126-131

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 07 Januari 2014

HARAP TENANG

Nats: Curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. (Mazmur 62:9)

Daud bukanlah manusia yang bebas dari masalah. Bahkan ia pernah diburu dan terancam bahaya maut justru karena ia melakukan hal yang benar. Karena Raja Saul iri hati kepada nya, Daud berada dalam kejaran pedang. Kesesakan dan ketakutan menjadi kawan akrabnya. Tetapi, Daud mendapatkan ketenangan sewaktu datang pada Allah. Ia tahu bahwa Allah menyertai dan melindunginya. Ia mencurahkan segala isi hati kepada Allah yang hidup (ay. 8). Dia memercayakan diri sepenuhnya kepada Allah.

Selama kita hidup di dunia, masalah akan selalu ada. Tetap saja, kita merasa panik ketika hal itu terjadi. Rasa bingung lebih cepat menyergap kita daripada ide cemerlang untuk mengatasi masalah tersebut. Sampai pada taraf tertentu, hal itu masih wajar. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa kita memiliki tempat yang tepat untuk mencurahkan segala kegalauan kita. Ketika gundah gulana meliputi hati, kita dapat datang menghampiri Allah. Kita dapat tetap tenang, tidak dikuasai kepanikan, dan menyapa Allah dalam doa.

Allah selalu mengerti apa yang sedang terjadi dalam hidup kita. Dan jika Dia mengizinkan hal itu terjadi, Dia tentu mempersiapkan jalan keluar bagi kita. Seperti sikap Daud, marilah kita datang kepada Allah, sumber jawaban dan jalan keluar bagi setiap masalah dalam hidup kita. Kita dapat datang dan bersujud di hadapan-Nya, menaikkan doa, mencurahkan keluhan dan kesesakan di dada. Dan nantikanlah kelegaan dan jalan keluar dari-Nya. --Istiasih /Renungan Harian

SOLUSI DAN ALLAH HANYALAH SEJAUH DOA. --MAX LUCADO

Mazmur 62

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 06 Januari 2014

'KAN ADA TUHAN!

Nats: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Lukas 18:17)

Siapa bilang orang dewasa tidak bisa belajar iman dari seorang anak kecil? Saya punya anak perempuan. Waktu itu ia berumur 4 tahun. Di rumah kami ada mahasiswa sekolah teologi yang sedang melakukan tugas praktek lapangan. Rupanya ia mendengar desas-desus bahwa rumah tempat kami tinggal terkenal angker. Ia ketakutan. Suatu ketika mahasiswa ini kami tinggal di rumah seorang diri karena kami mengikuti pelawatan ke rumah anggota jemaat. Menjelang sore, ia menelepon dan memohon supaya kami cepat-cepat pulang. Takut, katanya. Pembicaraan di telepon itu terdengar oleh anak perempuan kami. Di rumah, ia langsung menemui mahasiswa itu. Katanya, "Bang! Jangan takut, 'kan ada Tuhan!" Kontan saya tertawa mendengarnya. Iman seorang anak kecil rupanya lebih besar dari iman seorang mahasiswa teologi.

Saat murid-murid-Nya merintangi orang banyak yang datang kepada Yesus dengan membawa anak mereka, Tuhan Yesus menegur para murid. Dia senang menyambut kedatangan anak-anak itu, bahkan mengatakan bahwa orang dewasa dapat belajar dari seorang anak kecil dalam menyambut Kerajaan Allah (ay. 17).

Karakter seorang anak kecil diwarnai oleh kesederhanaan, keriangan dan sukacita, kepolosan, ketulusan, dan, terutama, kepercayaan penuh terhadap orang dewasa, khususnya orang tuanya. Dengan karakter seperti anak kecil tersebut, dengan kepercayaan penuh, kita dapat menyambut dengan penuh sukacita Kerajaan Allah yang dinyatakan melalui Tuhan Yesus Kristus. --Adama Sihite /Renungan Harian

            KITA DAPAT MENGAJARKAN IMAN KEPADA ANAK-ANAK.
     TETAPI, ADA SAATNYA KITA PERLU BELAJAR BERIMAN DARI MEREKA.

Lukas 18:15-17

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 05 Januari 2014

SETIA SAMPAI MATI

Nats: Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. (Wahyu 2:10)

Sewaktu berkunjung ke Jepang, saya sempat berfoto di depan patung Hatchiko di Stasiun Shibuya, Tokyo. Hatchiko seekor anjing yang sangat setia. Menurut cerita, setiap hari ia selalu mengantar dan menjemput tuannya di Stasiun Shibuya. Suatu hari tuannya meninggal dunia di kantor. Hatchiko pun menunggu tuannya di stasiun ini sampai mati karena tuannya tidak pernah pulang lagi. Patung Hatchiko didirikan sebagai lambang kesetiaan.

Orang percaya dipanggil untuk setia. Setia kepada siapa? Smirna dikenal sebagai kota yang sangat loyal pada pemerintahan Romawi. Sebaliknya, orang Kristen di kota itu mengalami kesulitan secara ekonomi dan berbagai macam penderitaan karena mereka menolak untuk setia dan loyal kepada Kaisar. Mereka hanya mau tunduk kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan. Yesus meyakinkan orang percaya di Smirna bahwa Dia tahu segala penderitaan yang mereka alami. Dia dapat turut merasakannya karena Dia pernah menderita, disalibkan, dan mati. Namun Dia bangkit kembali, hidup, dan menang. Hanya Dialah yang dapat merasakan penderitaan orang percaya dan yang dapat memberikan kekuatan untuk melewati penderitaan itu. Yesus berkata, "Hendaklahengkau setia sampai mati dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."

Sebagaimana Yesus setia sampai mati di atas kayu salib, Dia mendorong orang percaya untuk setia sampai mati. Marilah kita terus melayani Tuhan sambil mengarahkan mata kita kepada Dia karena mahkota kehidupan ada di tangan-Nya. --Eddy Nugroho /Renungan Harian

         MEMANDANG DIA YANG DISALIBKAN MEMBANGKITKAN MOTIVASI
                      UNTUK SETIA MENGIKUTI-NYA.

Wahyu 2:8-11

e-RH Situs: http://renunganharian.net

Sabtu, 04 Januari 2014

PERLU PROSES LAMA

Nats: Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja; empat puluh tahun lamanya ia memerintah. (2 Samuel 5:4)         

Berapa lama waktu untuk membuat secangkir kopi? Tidak lebih dari sepuluh menit. Tetapi, perjalanan biji kopi sampai menjadi minuman nikmat itu bisa jadi perlu bertahun-tahun. Seorang pemilik toko kopi di Bandung, misalnya, menyimpan biji kopi robusta selama lima tahun dan biji kopi arabika selama delapan tahun untuk mendapatkan biji kopi yang berkualitas.

Saat ini banyak hal dapat dilakukan dengan lebih cepat dan lebih mudah, menghasilkan berbagai produk instan yang disukai banyak orang. Namun, hal itu tidak menjamin produk yang dihasilkan berkualitas lebih baik. Dalam banyak hal, waktu dan proses mutlak diperlukan untuk membuahkan hasil yang bermutu unggul. Salah satu contohnya adalah masa persiapan seseorang yang dipakai Tuhan. Daud, misalnya, diurapi menjadi raja di 1 Samuel 16. Saat itu kemungkinan ia masih remaja. Baru 21 pasal kemudian, dalam perikop hari ini, ketika ia berumur 30 tahun (ay. 4), setelah mengalami berbagai peristiwa yang membentuk karakternya, ia ditetapkan menjadi raja atas seluruh Israel dan Yehuda (ay. 5).

Tuhan pun tidak tinggal diam dalam hidup kita. Dia mempersiapkan kita tampil sebagai pribadi yang kuat dan cakap untuk mengerjakan pelayanan-Nya. Tidak jarang, seperti biji kopi yang disimpan bertahun-tahun sebelum menjadi secangkir kopi yang nikmat, Tuhan "menyimpan" Anda dalam proses pembentukan, agar dapat melayani secara lebih efektif lagi. Sekalipun prosesnya mungkin berlangsung lama dan tidak mudah, nikmatilah! --Okky Sutanto/Renungan Harian

       KENIKMATAN SUKSES TAK AKAN SEMPURNA TANPA ADANYA PROSES.

2 Samuel 5:1-5

e-RH Situs: http://renunganharian.net

Jumat, 03 Januari 2014

TAHU JALAN KITA

Nats: Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. (Ayub 23:10)

"Mengapa ini semua harus terjadi Tuhan?" Pertanyaan ini sering keluar dari mulut kita. Di Alkitab, banyak orang melontarkannya kepada Tuhan, mulai dari bangsa Israel yang bersungut-sungut karena tidak memiliki makanan dan minuman sampai pada Paulus yang mempunyai duri dalam dagingnya. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sarat dengan cerita bahwa umat Tuhan tidak luput dari permasalahan hidup. Salah satunya kisah Ayub, laki-laki yang taat kepada Tuhan.

Dalam perikop ini, Ayub bertanya kepada Tuhan mengapa masalah itu menimpanya. Ayub ingin membela diri, mengajukan perkaranya kepada Tuhan, berkeluh kesah bahwa ia tidak sepatutnya mengalami musibah tersebut (ay. 2-7). Tuhan seakan diam, tidak memberikan jawaban yang melegakannya (ay. 8-9). Ada pun para sahabatnya menyalahkannya, menganggapnya kena tulah karena berbuat dosa. Namun, di tengah kebimbangan dan keraguan itu, ada satu pengakuan yang mengandung kepastian: bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi dirinya. Jika Tuhan mengujinya, ia akan menjadi seperti emas (ay. 10). Ia tidak mengatakan "mungkin", tetapi "akan", menunjukkan pengharapan dan keyakinan yang teguh.

Kiranya kita memiliki pengertian seperti Ayub: bahwa Allah tahu jalan hidup yang terbaik bagi kita. Pemahaman semacam ini akan menolong kita untuk tetap teguh di tengah terpaan berbagai kebimbangan dan keraguan. Saat masalah hidup menerpa kita, kita diteguhkan bahwa Dia tidak meninggalkan kita, namun tengah membentuk kita menjadi emas yang semakin murni. --Irfan Setyawan W/Renungan Harian

PENGERTIAN YANG BENAR TENTANG ALLAH MENJADI SUMBER PENGHIBURAN
SAAT KESESAKAN MENERPA KEHIDUPAN KITA.

Ayub 23:1-17

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 02 Januari 2014

IMAM LEPRA

Nats: "... dan mereka akan menamakan Dia Imanuel." (Yang berarti: Allah menyertai kita.) (Matius 1:23)

Romo Damien, rohaniman Katholik dari Belgia, selama 16 tahun melayani masyarakat lepra yang dikucilkan di Pulau Molokai, Hawaii. Untuk membangun kembali harga diri mereka, selain pembinaan rohani, ia memberikan pelatihan kerja agar mereka dapat menghidupi diri sendiri. Ia menjadi salah satu dari mereka. Dan, tertulari penyakit mereka. Pada usia 49 tahun ia meninggal karena kusta. Seseorang berkomentar, "Tidak ada mukjizat dalam pelayanan Romo Damien sebab ia sendirilah mukjizat itu."

Kisah Romo Damien mengingatkan pada kehadiran Kristus di tengah-tengah kita. Immanuel, Allah menyertai kita. Dia menjadi serupa dengan kita. Berdaging sama dengan kita. Bahkan menanggung sengsara dalam daging yang serupa dengan kita. Nabi Yesaya menubuatkan, "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya" (Yes. 53:4). Tidak ada kekuatan dan penghiburan yang lebih besar selain kesadaran bahwa kita tidak sendirian. Tuhan bersama kita. Tak ragu untuk bersolidaritas dengan kita. Dia mengerti, menyertai, dan menjadi sama dengan kita. Itu sebuah mukjizat agung.

Siapa yang tidak ingin mengalami mukjizat? Kendati demikian, jika tak ada berkat luar biasa atau keajaiban, itu bukan berarti tiada mukjizat. Pemberian terbaik-Nya bagi kita adalah kehadiran Yesus. Demi menyelamatkan kita, Dia lahir sebagai manusia, menyerupai kita, menderita, dan disalibkan untuk menebus kita. Dia memberi kepastian bahwa kita tidak akan pernah sendirian. --Pipi A Dhali/Renungan Harian


BELUM TENTU HAL-HAL BESAR MENYERTAI PERJALANAN HIDUP KITA,
TETAPI YANG PASTI TUHAN SENANTIASA MENYERTAI KITA.

Matius 1:18-25

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

MALAH TAKUT?

Nats: Kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Mazmur 56:5)

Di tengah kemeriahan perayaan Tahun Baru, tidak sedikit orang yang malah merasa takut dan khawatir akan hari-hari mendatang. Barangkali, Anda termasuk orang tersebut. Anda cemas karena menyadari tahun baru ini belum tentu lebih baik dari tahun lalu. Masih ada pergumulan dan persoalan yang belum diatasi. Bahkan, Anda membayangkan aneka tantangan baru yang mungkin menghadang pada tahun ini. Tahun baru menggentarkan karena penuh ketidakpastian.

Memang, ketakutan adalah perasaan yang manusiawi. Akan tetapi, ketakutan yang berkepanjangan akan melemahkan kemauan dan melumpuhkan kemampuan kita. Dalam Mazmur ini, Daud dengan jujur mengungkapkan rasa takut akan musuh-musuhnya (ay. 2-4). Menariknya, di ayat 5, Daud berubah drastis menjadi tidak lagi takut. Apa rahasianya? Kuncinya terletak di kalimat antara frase "aku takut" (ay. 4) dan "aku tidak takut" (ay. 5), yaitu ia memercayai Allah sepenuhnya. Lantas, bagaimana ia memercayai Allah? Tidak lain dengan cara memercayai janji firman Tuhan! Di awal ayat 5, ia mensyukuri Firman Tuhan yang menjadi penopang hidupnya.

Saat kita takut, carilah janji Firman Tuhan yang spesifik untuk masalah tersebut. Takut akan kebutuhan hidup sehari-hari? Percayailah Matius 7:11. Akan hari tua? Ingatlah Yesaya 46:4. Akan serangan si Iblis? Imanilah Roma 8:31. Akan kelemahan diri kita? Hayatilah 2 Korintus 12:9. Jangan lupa, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Mari masuki tahun baru dengan berpegang pada janji-Nya. Tahun baru? Siapa takut! --Jimmy Setiawan/Renungan Harian


AKU TIDAK TAKUT AKAN HARI ESOKKU
KARENA TUHAN SUDAH HADIR DI SANA. --ANONIM

Mazmur 56

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®

BERHENTI DI SUNGAI BESOR

Nats: Dua ratus orang yang terlalu lelah untuk menyeberangi sungai Besor itu, berhenti di sana. (1 Samuel 30:10b)

Dunia bertepuk tangan untuk orang yang terus maju. Yang makin tinggi. Makin besar. Makin banyak. Sebaliknya, mereka yang berhenti atau menyerah di tengah jalan tidak mendapatkan tempat, dianggap pecundang. Yang mundur dinilai payah. Begitukah?

Daud memiliki pengalaman menarik. Ketika para pengikutnya dan keluarga mereka ditawan gerombolan orang Amalek, Tuhan mengizinkan mereka mengejar perusuh tersebut. Daud berangkat dengan pasukan berjumlah 600 orang. Tetapi, setiba di tepian sungai Besor, 200 orang terlalu lelah untuk melanjutkan pengejaran. Mereka tinggal dan rehat di sana. Sesudah meraih kemenangan, pasukan yang terus maju mengusulkan kepada Daud, agar mereka yang berhenti di sungai Besor tidak usah diberi bagian jarahan. Daud menolak. Semua orang tetap mendapatkan bagian. Yang terus maju dipuji, yang terpaksa berhenti dipahami. Semua dihargai. Bagi yang terlalu lelah dan terpaksa berhenti, tetap ada tempat tersendiri.

Dari Daud kita belajar bahwa tidaklah cukup mengukur pencapaian seseorang hanya berdasarkan standar maju atau tidak maju: yang maju berarti pemenang; yang berhenti berarti pecundang. Tidak seperti itu. Masih banyak ukuran lain yang perlu dipertimbangkan. Masih cukup tenaga atau sudah terlalu lelah? Sehat atau sakit? Berani atau tidak? Adil atau tidak? Daud mengajak kita untuk berpandangan luas, berjiwa besar, dan berlapang dada. Bersedia menerima dan menghargai orang yang tak sanggup memenuhi harapan akibat dihadang keterbatasan. --Pipi A Dhali

ORANG YANG BERJIWA BESAR SENANTIASA MENYEDIAKAN RUANG
BAGI ORANG LAIN, TERUTAMA MEREKA YANG DIANGGAP SEPELE.

1 Samuel 30:7-25

e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®