Ada lebih banyak orang kristiani yang menjadi martir pada abad kedua puluh dibandingkan dengan jumlah seluruh martir dari abad-abad sebelumnya. Bagaimana reaksi Anda mengetahui hal ini? Biasa-biasa saja? Tersentak? Kasihan? Benci pada orang-orang yang menganiaya kekristenan?
Ketika mendengar tekanan dan aniaya yang dialami oleh Petrus dan Yohanes, saudara-saudara seiman dalam komunitas jemaat Tuhan mengambil langkah untuk berdoa. Mereka menyadari bahwa masa-masa sulit itu adalah bagian yang memang akan terjadi untuk menggenapi rencana Tuhan (ayat 25-28). Mereka mengakui kegentaran mereka terhadap ancaman-ancaman yang mereka terima (ayat 29a). Namun, mereka tahu bahwa mundur bukanlah jalan keluar, sebab dunia harus mendengar kabar kasih karunia Tuhan yang dinyatakan melalui Yesus Kristus. Yang mereka minta adalah penyertaan dan kuasa Tuhan agar mereka dengan berani dapat menyampaikan kebenaran firman-Nya (ayat 29b-30). Respons Tuhan? Dia mencurahkan Roh Kudus dan memampukan mereka menjadi saksi-saksi-Nya (ayat 31).
Kita bersyukur jika masih bisa beribadah dengan bebas. Di berbagai tempat, mengekspresikan iman kristiani bisa diancam dengan penjara, siksaan, bahkan kematian. Pada Hari Doa Sedunia bagi Gereja-Gereja Teraniaya ini, mari bersehati berdoa, mohon kuasa dan penyertaan Tuhan dicurahkan sehingga dengan setia dan berani, mereka dapat tetap memberitakan kebenaran dan menjadi berkat di mana pun mereka berada. --JOE
BERSERU KEPADA TUHAN ADALAH LANGKAH TERBAIK DI TENGAH ANIAYA.
Kisah Para Rasul 4:23-31
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Jumat, 02 November 2012
Kamis, 01 November 2012
Milikku = milik Allah?
Dalam pandangan Iblis, kesalehan manusia bagaikan omong kosong. Bagi Iblis, manusia hanya taat kepada Allah karena ada pamrih, yaitu bila mendapatkan segala sesuatu yang dia inginkan. Bila tidak, tentu manusia tidak akan menyia-nyiakan waktunya bagi Allah. Pandangan tersebut kemudian diajukan Iblis kepada Allah sebagai gugatan untuk mencabut semua "fasilitas kelas satu" yang sudah dimiliki Ayub sebagai sebuah ujian bagi iman Ayub. Dan Allah setuju (6-12).
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Ayub kehilangan seluruh miliknya. Ribuan hewan ternaknya dirampas (13-17). Seolah masih belum cukup, kesepuluh anaknya tewas secara mengenaskan dalam bencana saat mereka berpesta (18-19). Siapakah orang yang tak hancur hati mengalami situasi demikian? Katakanlah harta masih dapat dicari, tetapi anak-anak yang selama ini begitu dia kasihi? Maka tak heran bila Ayub mengoyak jubah dan mencukur kepala sebagai tanda duka citanya (20).
Mari kita kembali pada gugatan Iblis terhadap Ayub. Dalam masalah berat yang Ayub hadapi, adakah ia meninggalkan Allah? Ayat 22 jelas menyatakan bahwa "Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut."
Cara pandang manusia terhadap kepemilikan sangat berpengaruh terhadap respons ketika miliknya itu diambil. Tentu tak salah bila kehilangan harta benda bagai sebuah pukulan, atau kehilangan anggota keluarga bagai rusaknya tatanan hidup, dan kehilangan keduanya bagai langit runtuh. Ayub sendiri berduka dan ia jelas menyatakan perasaan dukanya. Namun imannya merespons secara mengagumkan. Ayub sadar bahwa semua yang ia miliki adalah pemberian Tuhan dan karena itu, ia patut menerima bila Tuhan ingin mengambil semua itu kembali (21).
Sampai sedemikian dalamkah pemahaman kita akan segala sesuatu yang kita miliki? Bila Tuhan mengambil semuanya sekaligus, bagaimana kira-kira respons Anda? Akankah Anda berkata, "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan"?
Ayub 1:6-22
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Ayub kehilangan seluruh miliknya. Ribuan hewan ternaknya dirampas (13-17). Seolah masih belum cukup, kesepuluh anaknya tewas secara mengenaskan dalam bencana saat mereka berpesta (18-19). Siapakah orang yang tak hancur hati mengalami situasi demikian? Katakanlah harta masih dapat dicari, tetapi anak-anak yang selama ini begitu dia kasihi? Maka tak heran bila Ayub mengoyak jubah dan mencukur kepala sebagai tanda duka citanya (20).
Mari kita kembali pada gugatan Iblis terhadap Ayub. Dalam masalah berat yang Ayub hadapi, adakah ia meninggalkan Allah? Ayat 22 jelas menyatakan bahwa "Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut."
Cara pandang manusia terhadap kepemilikan sangat berpengaruh terhadap respons ketika miliknya itu diambil. Tentu tak salah bila kehilangan harta benda bagai sebuah pukulan, atau kehilangan anggota keluarga bagai rusaknya tatanan hidup, dan kehilangan keduanya bagai langit runtuh. Ayub sendiri berduka dan ia jelas menyatakan perasaan dukanya. Namun imannya merespons secara mengagumkan. Ayub sadar bahwa semua yang ia miliki adalah pemberian Tuhan dan karena itu, ia patut menerima bila Tuhan ingin mengambil semua itu kembali (21).
Sampai sedemikian dalamkah pemahaman kita akan segala sesuatu yang kita miliki? Bila Tuhan mengambil semuanya sekaligus, bagaimana kira-kira respons Anda? Akankah Anda berkata, "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan"?
Ayub 1:6-22
Powered by Telkomsel BlackBerry®
LEBIH DARI SEKADAR RASA
Meski berat, momen perpisahan sering merupakan saat-saat menikmati hujan kasih. Saya masih menyimpan sejumlah kenang-kenangan yang diberikan ketika saya selesai kuliah dan akan pulang ke kota asal. Tidak semuanya berguna, tetapi tiap benda mengingatkan saya pada mereka yang meluangkan waktu, uang, dan tenaga demi menunjukkan kasih kepada saya.
Saya pikir orang yang mengurapi Yesus menjelang penyaliban pastilah sangat mengasihi Yesus. Sebab itu, Yesus sangat menghargai tindakannya (ayat 10). Menuangkan minyak wangi menunjukkan penghormatan yang besar dalam budaya zaman itu, apalagi minyak yang mahal harganya. Menurut catatan Injil Yohanes, ia adalah Maria, saudara Lazarus yang pernah dibangkitkan Yesus. Mungkin sekali Maria telah mendengar bahwa Yesus akan disalibkan dan ia tak tahan menunjukkan kasih dan penghormatannya kepada Sang Mesias selagi masih punya kesempatan. Menurut catatan Matius, Yesus telah empat kali memberitahukan tentang kematian-Nya kepada para murid. Namun, mereka tidak memercayai-Nya (lihat pasal 16:22), bahkan gusar melihat tindakan Maria yang mereka anggap berlebihan (ayat 8).
Tindakan Maria mengingatkan kita bahwa kasih adalah sesuatu yang "aktif", bukan sekadar perasaan yang kita harap bisa meluap sewaktu-waktu. Perintah pertama dan utama yang diberikan Yesus adalah "Kasihilah Tuhan, Allahmu, ...." Kasihilah, sebuah kata kerja. Ketika kita mengasihi Allah, kita memercayai dan menaati-Nya (lihat Yohanes 14:15). Tak mengapa jika tidak dihargai orang. Kita melakukannya semata-mata karena hendak menunjukkan kasih dan penghormatan tertinggi bagi-Nya. --MEL
MENGASIHI ALLAH BERARTI KITA MEMERCAYAI-NYA
DAN MENGAMBIL LANGKAH NYATA UNTUK MENANGGAPI-NYA.
Matius 26:1-13
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saya pikir orang yang mengurapi Yesus menjelang penyaliban pastilah sangat mengasihi Yesus. Sebab itu, Yesus sangat menghargai tindakannya (ayat 10). Menuangkan minyak wangi menunjukkan penghormatan yang besar dalam budaya zaman itu, apalagi minyak yang mahal harganya. Menurut catatan Injil Yohanes, ia adalah Maria, saudara Lazarus yang pernah dibangkitkan Yesus. Mungkin sekali Maria telah mendengar bahwa Yesus akan disalibkan dan ia tak tahan menunjukkan kasih dan penghormatannya kepada Sang Mesias selagi masih punya kesempatan. Menurut catatan Matius, Yesus telah empat kali memberitahukan tentang kematian-Nya kepada para murid. Namun, mereka tidak memercayai-Nya (lihat pasal 16:22), bahkan gusar melihat tindakan Maria yang mereka anggap berlebihan (ayat 8).
Tindakan Maria mengingatkan kita bahwa kasih adalah sesuatu yang "aktif", bukan sekadar perasaan yang kita harap bisa meluap sewaktu-waktu. Perintah pertama dan utama yang diberikan Yesus adalah "Kasihilah Tuhan, Allahmu, ...." Kasihilah, sebuah kata kerja. Ketika kita mengasihi Allah, kita memercayai dan menaati-Nya (lihat Yohanes 14:15). Tak mengapa jika tidak dihargai orang. Kita melakukannya semata-mata karena hendak menunjukkan kasih dan penghormatan tertinggi bagi-Nya. --MEL
MENGASIHI ALLAH BERARTI KITA MEMERCAYAI-NYA
DAN MENGAMBIL LANGKAH NYATA UNTUK MENANGGAPI-NYA.
Matius 26:1-13
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Langganan:
Postingan (Atom)