Nats: Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. (Matius 5:9)
Seusai dialog "Damailah Lampungku" di Bandar Lampung, muncul tekad yang kuat untuk membangun perdamaian di Lampung. Daerah ini dijuluki "Sai Bumi Ruwa Jurai", yang berarti satu bumi dua suku. Dialog itu diharapkan dapat mencegah konflik komunal terulang pada masa yang akan datang. Tentu saja, dialog saja tidak cukup. Diperlukan niat yang kuat dari seluruh warga untuk membawa damai di daerahnya.
Apakah arti damai bagi kita? Kata "damai" dalam bahasa Ibrani adalah shalom, yang mengandung makna sejahtera, sehat, dan makmur. Damai adalah segala sesuatu yang membuat dan membawa kebaikan bagi manusia. Damai adalah kenikmatan atas segala kebaikan. Membawa damai, dengan demikian, berarti berbuat sesuatu sehingga orang lain dapat menikmati kebaikan. Membawa damai berarti membawa atau berbuat kebaikan bagi sesama. Membawa damai berarti mengambil risiko untuk disalahmengerti, bahkan terkadang usaha kita tidak dihargai dan belum tentu berhasil. Mengapa anak-anak Allah dipanggil untuk menjadi orang yang membawa damai? Karena mereka melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh Allah sehingga tindakan mereka mencerminkan karakter Allah, Sang Raja Damai.
Kita sebagai anak Allah diharapkan berperan aktif untuk membawa damai di bumi pertiwi, Indonesia. Perbedaan seharusnya memperkaya kita sehingga bisa saling melengkapi. Tuhan menciptakan kita tidak sama, tetapi bisa menjadi sesama bagi orang lain sehingga orang lain dapat menikmati kebaikan kasih Allah karena kehadiran kita. --Eddy Nugroho
KEBAIKAN ADALAH BAHASA YANG DAPAT DIDENGAR ORANG TULI
DAN DIPAHAMI ORANG BODOH. ANONIM
Matius 5:1-12
e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Selasa, 27 Agustus 2013
Jumat, 23 Agustus 2013
TIADA ULANGAN WAKTU
Nats: Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif... (Efesus 5:15)
Kebanyakan arloji berbentuk bulat. Akibatnya, sebagian orang berpikir bahwa waktu itu terus berulang seperti jarum jam yang berputar pada sumbunya. Padahal, waktu berjalan seperti garis lurus, dan tidak pernah kembali ke titik yang sudah dilewatinya. Pukul 09.00 hari ini tentu berbeda dari pukul 09.00 kemarin, berbeda lagi dari pukul 09.00 besok. Kita tidak pernah dapat mengulangi waktu yang sudah berlalu, bahkan satu detik sekalipun.
Di dunia ini semakin banyak kesempatan untuk berbuat dosa: kebiasan bergosip, mengakses pornografi di internet, mabuk, dan sebagainya --hal-hal yang bahkan menyebutkannya saja sudah memalukan (ay. 12-15). Kita diperintahkan untuk tidak ikut melibatkan diri di dalamnya (ay. 11). Kita perlu bersikap bijaksana, supaya tidak terhanyut oleh arus, mengikuti perbuatan orang yang tidak taat kepada Tuhan. Kita perlu mengerti kehendak Tuhan dalam hidup kita, dan kemudian mempergunakan setiap waktu yang ada untuk mewujudkan kehendak-Nya tersebut (ay. 16-17). Dengan demikian kita mempertanggungjawabkan waktu yang Tuhan karuniakan kepada kita.
Kita dapat memeriksa dengan jujur kebiasan kita selama ini dalam mempergunakan waktu. Seberapa banyak yang kita lakukan untuk hal produktif yang berguna baik bagi diri sendiri maupun sesama? Masihkah ada waktu yang kita gunakan untuk hal yang sia-sia, yang mungkin nikmat saat dilakukan, tapi menyisakan penyesalan sesudahnya? Ingatlah, waktu tidak dapat diulang; hargailah setiap detik yang kita alami. --Ulbrits Siahaan
WAKTU ITU SEPERTI PISAU BERMATA DUA,
DAPAT DIPAKAI UNTUK MENYUKAKAN ATAU MENDUKAKAN HATI TUHAN.
Efesus 5:11-17
e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Kebanyakan arloji berbentuk bulat. Akibatnya, sebagian orang berpikir bahwa waktu itu terus berulang seperti jarum jam yang berputar pada sumbunya. Padahal, waktu berjalan seperti garis lurus, dan tidak pernah kembali ke titik yang sudah dilewatinya. Pukul 09.00 hari ini tentu berbeda dari pukul 09.00 kemarin, berbeda lagi dari pukul 09.00 besok. Kita tidak pernah dapat mengulangi waktu yang sudah berlalu, bahkan satu detik sekalipun.
Di dunia ini semakin banyak kesempatan untuk berbuat dosa: kebiasan bergosip, mengakses pornografi di internet, mabuk, dan sebagainya --hal-hal yang bahkan menyebutkannya saja sudah memalukan (ay. 12-15). Kita diperintahkan untuk tidak ikut melibatkan diri di dalamnya (ay. 11). Kita perlu bersikap bijaksana, supaya tidak terhanyut oleh arus, mengikuti perbuatan orang yang tidak taat kepada Tuhan. Kita perlu mengerti kehendak Tuhan dalam hidup kita, dan kemudian mempergunakan setiap waktu yang ada untuk mewujudkan kehendak-Nya tersebut (ay. 16-17). Dengan demikian kita mempertanggungjawabkan waktu yang Tuhan karuniakan kepada kita.
Kita dapat memeriksa dengan jujur kebiasan kita selama ini dalam mempergunakan waktu. Seberapa banyak yang kita lakukan untuk hal produktif yang berguna baik bagi diri sendiri maupun sesama? Masihkah ada waktu yang kita gunakan untuk hal yang sia-sia, yang mungkin nikmat saat dilakukan, tapi menyisakan penyesalan sesudahnya? Ingatlah, waktu tidak dapat diulang; hargailah setiap detik yang kita alami. --Ulbrits Siahaan
WAKTU ITU SEPERTI PISAU BERMATA DUA,
DAPAT DIPAKAI UNTUK MENYUKAKAN ATAU MENDUKAKAN HATI TUHAN.
Efesus 5:11-17
e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Kamis, 22 Agustus 2013
PERENCANAAN ORANG PERCAYA
Nats: Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu. (Yakobus 4:15)
Semua orang melakukan perencanaan, namun tidak semua orang mampu menyusun rencana secara efektif. Kita pun kerap mendengar perkataan ini, "Gagal merencanakan adalah merencanakan untuk gagal." Perencanaan, dengan demikian, persoalan yang penting. Bagaimana hal ini dipandang dalam iman Kristen?
Yakobus mencontohkan perencanaan seorang pedagang yang congkak. Pernyataan pedagang itu menyatakan bahwa ia berkuasa akan hari esok, perjalanan, bahkan laba yang akan ia dapatkan (ay. 13). Masalah utamanya: ia tidak sadar akan kefanaan manusia. "Uap" menggambarkan sesuatu yang tidak tinggal tetap, melainkan hanya hadir dalam hitungan detik, dan selanjutnya tidak kelihatan lagi. Maksudnya, kehidupan manusia itu datang dan pergi secara tidak terduga. Ada yang terlihat sehat, ternyata esoknya meninggal; ada yang sakitsakitan, namun ajal tidak kunjung menjemput. Jadi, kita tidak dapat menyusun rencana secara congkak. Dalam terjemahan Alkitab versi Raja James, kecongkakan semacam itu dikecam sebagai "kejahatan" (ay. 16).
Mungkin kita berpikir bahwa kemampuan dan pengalaman yang kita miliki akan memungkinkan kita meraih sukses dalam pekerjaan dan mengalami taraf hidup yang lebih baik. Tetapi, bagaimanakah sikap kita bila perencanaan kita gagal? Apakah kita sambil bersungut-sungut berkata, "Okelah, Tuhan, jadilah kehendak-Mu" ataukah dengan lega dan secara sadar kita berkata, "Jadilah kehendak-Mu"? Hal itu menunjukkan apakah kita memperhitungkan Allah dalam perencanaan kita atau tidak. --Vincent Tanzil
MENYUSUN RENCANA DALAM IMAN BERARTI MENYUSUN RENCANA
DENGAN MENGANDALKAN PENYERTAAN TUHAN.
Yakobus 4:13-17
e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Semua orang melakukan perencanaan, namun tidak semua orang mampu menyusun rencana secara efektif. Kita pun kerap mendengar perkataan ini, "Gagal merencanakan adalah merencanakan untuk gagal." Perencanaan, dengan demikian, persoalan yang penting. Bagaimana hal ini dipandang dalam iman Kristen?
Yakobus mencontohkan perencanaan seorang pedagang yang congkak. Pernyataan pedagang itu menyatakan bahwa ia berkuasa akan hari esok, perjalanan, bahkan laba yang akan ia dapatkan (ay. 13). Masalah utamanya: ia tidak sadar akan kefanaan manusia. "Uap" menggambarkan sesuatu yang tidak tinggal tetap, melainkan hanya hadir dalam hitungan detik, dan selanjutnya tidak kelihatan lagi. Maksudnya, kehidupan manusia itu datang dan pergi secara tidak terduga. Ada yang terlihat sehat, ternyata esoknya meninggal; ada yang sakitsakitan, namun ajal tidak kunjung menjemput. Jadi, kita tidak dapat menyusun rencana secara congkak. Dalam terjemahan Alkitab versi Raja James, kecongkakan semacam itu dikecam sebagai "kejahatan" (ay. 16).
Mungkin kita berpikir bahwa kemampuan dan pengalaman yang kita miliki akan memungkinkan kita meraih sukses dalam pekerjaan dan mengalami taraf hidup yang lebih baik. Tetapi, bagaimanakah sikap kita bila perencanaan kita gagal? Apakah kita sambil bersungut-sungut berkata, "Okelah, Tuhan, jadilah kehendak-Mu" ataukah dengan lega dan secara sadar kita berkata, "Jadilah kehendak-Mu"? Hal itu menunjukkan apakah kita memperhitungkan Allah dalam perencanaan kita atau tidak. --Vincent Tanzil
MENYUSUN RENCANA DALAM IMAN BERARTI MENYUSUN RENCANA
DENGAN MENGANDALKAN PENYERTAAN TUHAN.
Yakobus 4:13-17
e-RH Situs: http://renunganharian.net
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Langganan:
Postingan (Atom)