beristirahat setelah 6 hari mencipta, manusia juga butuh istirahat
setelah 6 hari bekerja, untuk memulihkan kesegaran jasmani dan
rohaninya. Namun orang Farisi mengartikan lain. Mereka komplain
ketika murid Yesus memetik gandum pada hari Sabat. Para murid
dianggap melanggar Sabat seperti ketentuan para Farisi, tetapi
sesungguhnya tidak menurut Taurat.
Yesus tak pernah membatalkan Sabat. Justru Dia berupaya meletakkan
fungsi Sabat yang sesuai maksud Allah. Yakni untuk menyejahterakan
manusia, bukan membebaninya. Sabat mengingatkan manusia akan Allah
Penciptanya, yang memberinya tanggung jawab mengelola cipta-an-Nya
selama 6 hari. Agar pada hari ke-7 manusia dapat beristirahat,
menikmati jerih lelahnya (Pengkhotbah 2:22, 24), dan memulihkan
kesegaran relasi dengan Allah dan sesama, sehingga seluruh hidupnya
dipenuhi ucapan syukur. Bagi Israel, Sabat juga mengingatkan akan
pembebasan Allah dari Mesir dan masuknya mereka ke Kanaan, negeri
perjanjian (Ulangan 5:15).
Mengabaikan Sabat berarti mengabaikan Allah, Pencipta yang
memelihara dan menyelamatkan manusia. Menikmati ciptaan tanpa
memedulikan penciptanya membuat manusia mengilahkan materi dan
dirinya sendiri. Inilah dosa terbesar. Kedatangan Kristus
membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan hukum buatannya
sendiri, yang membelenggunya. Apakah Anda masih diperbudak pekerjaan
demi mengejar materi dan pemuasan nafsu jasmani? Datanglah kepada
Yesus Sang Pembebas. Belajarlah kepada-Nya agar Anda mampu menikmati
hidup sebagaimana yang Allah mau --SST
TUHAN MENGADAKAN SABAT UNTUK DINIKMATI
BUKAN AGAR ANAK-ANAK-NYA TERBEBANI
Markus 2:23-28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar